kerajinan tanah liat

Ketika lihat gerabah jakarta tentu kita sadar produk gerabah jakarta bukan berasal dari ibukota indonesia, yuk kita baca artikel tentang pembuatan gerabah di sitiwangun.

Poole pottery atau barang dari tanah liat merupakan kerajinan yang eksotik , poole pottery membutuhkan teknik tinggi dalam pembuatannya dan tidak sembarangan hand made pottery, karena jika tak hati hati hand made pottery bisa jadi penyok di mana mana

Seperangkat alat makan pottery, berwarna merah tanah, menjadi bagian perlengkapan di atas meja saji makanan di hotel dan restoran. Sebuah guci pottery besar yang tidak berglasir dengan hiasan sederhana berupa pijitan dan tempelan, dapat merupakan eye catcher pada sebuah lobi gedung atau aksesori- aksesori taman di hotel berbintang. Itulah penampilan wujud kerajinan gerabah tradisional dari desa Sitiwinangun yang naik "gengsi".

Sitiwinangun adalah nama sebuah desa di kecamatan Klangenan yang terletak 15 km ke arah barat kota Cirebon. Sitiwinangun berasal dari bahasa Jawa yang berarti tanah yang dibentuk. (siti = tanah, wangun = bentuk). Tradisi membuat kerajinan gerabah sudah dilakukan oleh nenek moyang penduduk Sitiwinangun yang berbudaya agraris sejak zaman dahulu.

Seperti kita ketahui gerabah dibentuk dari bahan baku tanah liat, didapat dari daerah sekitar kampung. Tanah liat dari desa Sitiwinangun ini tanpa diolah pun sudah memenuhi syarat sebagai bahan baku gerabah.

Teknik pembuatan pembentukan keramik dilakukan dengan teknik pilin yaitu dengan membuat pilinan tanah yang panjang, kemudian dibentuk dengan dilingkarkan dan di tumpuk, sehingga membentuk seperti tabung. Kemudian baru dibentuk lagi dengan tangan sesuai dengan keinginan. Kemudian diketemukan teknik putar yang yang pemakaiannya dibantu oleh kaki atau tangan

Untuk membuat gerabah berupa gentong yang besar dilakukan dengan teknik pukul, yaitu memakai alat pemukul dari kayu yang disebut paddle dan landasannya disebut anvil. Biasanya untuk dasar gentong dibuat dengan teknik putar lambat. Untuk memperlebar bentuk, di bagian atas ditambah gumpalan tanah, dari luar di pukul dengan kayu, dari dalam ditahan oleh batu. Dengan demikian tanah lebih dipadatkan dan lebih kuat. Sama seperti pada pembuatan pottery bowl yang memerlukan teknik yang sama.

Setelah gentong atau pottery bowl terbentuk , untuk lebih indah, ditambah motif hias. Dari zaman dahulu telah dikenal gentong dengan hiasan yang dibuat dari torehan, cungkilan pukulan, dan lain-lain. Hasilnya berbentuk motif geometris, anyaman, tumpal, pilin, dan lain-lain. Ada kalanya dibuat motif baru berupa bunga ceplok yang ditempelkan, biasanya mengelilingi bagian luar gentong. Sejalan dengan perkembangan motif batik, dikembangkan pula motif kangkungan, awan berarak, matahari (berupa titik dengan garis memancar di sekelilingnya).

0 komentar:

Followers